Pelajaran VI

Oleh Danial Indrakusuma di Buruh Belajar Ekonomi dan Politik .

VII. Tanpa Kerja—Tanpa Gaji—Tanpa Makan

1. Perindustrian dimulai di Inggris. Selama industri hanya terdapat di Inggris, mereka tidak memiliki masalah dalam memasarkan hasil produksi mereka. Malah Inggris tak mampu memenuhi permintaan yang begitu tinggi. Bagaimanapun, pada pertemgahan tahun 1800-an, pabrik-pabrik di negeri-negeri lain seperti Prancis, Belgia, Jerman, dan Amerika Serikat memasarkan hasil produksi mereka. Maka kapitalis mulai mengalami kesulitan menjual hasil produksi buruh mereka. Banyak barang-barang dagangan kapitalis tidak dapat dijual. Orang-orang tak sanggup lagi memberi barang-barang tersebut, dan mereka terpaksa harus bersaing sesama mereka untuk dapat menjual. Hampir semua kapitalis berpendapat sama: “Kalau aku jual dengan harga murah, tentu orang-orang akan membeli dariku”; “kalau aku turunkan harga, semua orang akan membeli dariku”. Dan setiap kapitalis menurunkan harga serendah mungkin: termurah; sangat murah; lelang; obral. Bagaimana pun, tidak semua kapitalis mampu menurunkan harganya. Hanya mereka yang mempunyai mesin lebih banyak dan lebih baik, yang dapat menghasilkan produksi lebih banyak dan murah, yang dapat menurunkan harga, atau menjual barangnya jauh lebih murah. Pembeli tentu menginginkan barang yang lebih murah. Banyak yang tak mampu membeli dengan harga tinggi. Mereka yang tak mampu menawarkan barang yang lebih murah akan hancur usahanya, bangkrut. Maka, beberapa kapitalis bertumbangan dan keadaan ekonomi semakin memburuk. Siapa kuat, dia yang selamat. Sekarang jumlah kapitalis berkurang.

2. Kapitalis besar merasa yakin bahwa perdagangan akan berkembang seperti semula, modal akan terus bertambah, karena itu mereka berpikir harus membeli mesin lebih banyak, mempekerjakan buruh lebih banyak. Mereka, semua, berpikir harus bersaing di antara sesamanya dengan membeli lebih banyak mesin dan mempekerjakan buruh lebih banyak. Tujuannya agar barangnya lebih baik, lebih banyak dan lebih murah, mengalahkan yang lain. Tapi, yang terjadi, berulang seperti semula: sekali lagi barang-barang yang dijual di pasar melebihi permintaan karena orang tak mampu membeli. Sekarang, kapitalis mana lagi yang akan tumbang menjadi korban.

3. Saat-saat akhir Willy Rust. Willy Rust adalah seorang kapitalis yang tidak dapat memasarkan barang-barang produksinya, akibat pengeluaran yang berlebihan. Sejak beberapa beberapa minggu belakangan ini, barang-barangnya tidak dapat dijual, tidak laku, dan utangnya sudah jatuh tempo. Bila tidak dapat melunasi utangnya maka ia terpaksa harus menjual pabriknya, yang memproduksi mesin. Ia merasa masih memiliki jalan lain, yaitu meminjam uang kembali untuk melunasi hutangnya. Maka ia berusaha meminjam uang pada bank. Ia mencoba memohon pinjaman jangka pendek untuk membayar utangnya atas pembelian biji besi kepada perusahaan Macprofit. Banyak kapitalis yang juga melakukan hal yang sama dengan Willy Trust. Pimpinan bank kemudian menelpon pemilik Macprofit dan memberitahu persoalan Willy Trust. Dan pemilik Macprofit merasa memiliki kesempatan untuk mengambil alih hak pemilikan pabrik Willy Trust. Kemudian pemilik Macprofit melakukan persekongkolan dengan pemilik bank—yaitu menolak pinjaman Willy Trust. Willy Trust gagal membayar utangnya,ia bunuh diri, dan Macprofit mengambil alih atau membeli pabriknya dari bank.

4. Keadaan bertambah sulit bagi kapitalis—terutama bagi kapitalis kecil. Kapitalis kecil mempunyai hambatan yang mengancam mereka: pemilik bank. Pemilik bank juga adalah kapitalis. Melalui usahanya, ia telah berhasil mengumpiukan banyak uang, yang kemudian dipinjamkan (baca: dijual) pada orang lain (dan dia mendapatkan bunga dari uang yang dipinjamkan itu). Seperti juga Willy Trust, pemilik bank suka meminjam uang pada kapitalis-kapitalis besar, dengan harapan bahwa kapitalis besar bisa memberikan keuntungan baginya—dan kapitalis besar akan mengurangi resikonya. Dalam situasi persaingan, maka yang kuat dan yang besar saling membantu mengatasi resiko bersama. Pabrik besi dan baja, minyak serta batu bara, perusahaan-perusahaan elektrik, banyak membuat pinjaman kepada bank karena mereka memerlukan uang banyak untuk membeli mesin.

5. Perusahaan-perusahaan besar dan bank-bank besar. Mereka bekerjasama dan saling bantu sesamanya agar menjadi lebih besar, makin lebih besar, dan lebih besar lagi, terutama perusahaan Amerika Serikat dan Jerman. Mereka memiliki pabrik-pabrik yang besar dan cakap. Mereka dapat menghasilkan barang-barang yang dapat membuat masyarakat tak mampu lagi membeli barang-barang tersebut. Kapitalis terjepit dan mereka menurunkan harganya agar barang menjadi murah dan dapat dibeli. Mereka mencari jalan lain agar harga barangnya tidak turun terus. Misalnya dengan menghemat pembelian mesin. Tapi tidak bisa, karena tidak ada lagi mesin yang harganya lebih murah; cara lainnya adalah dengan mengurangi pekerja atau buruh. Pabriknya ditutup atau dikurangi sebagian kemampuan produksinya. Yang merugi adalah buruh, mereka kehilangan pendapatan dan daya belinya.

6. Krisis Tahun 1873. 10 ribu, 100 ribu, berjuata-juta pekerja atau buruh di-PHK, tanpa kerja, tanpa upah, tanpa makan. Zaman malaise (baca: meleset) disebutnya, yang mulai terjadi pada tahun 1873, yang merebak ke seluruh negeri-negeri perindustrian. Malaise tidak berakhir dalam waktu yang singkat—satu tahun, dua tahun sampai lima tahun, tetap belum selesai.

7. Kesulitan dan kesengsaraan meningkatkan semangat kaum buruh. Mereka berkumpul untuk melakukan rapat-rapat akbar. Mereka merasa lebih kuat jika mereka bersatu menentang musuh. Semangat mereka untuk menuntut keadilan kian memuncak. Mereka semuanya bersuara meluapkan perasaan masing-masing. “Golongan kapitalis mempunyai banyak barang yang tidak laku dijual, sedangkan kita kelaparan.” “Mereka menutup pabrik karena keuntungannya merosot, sedangkan kita tidak punya pekerjaan.” “Begitulah kedudukan kita sekarang.” “Apa tindakan kita sekarang.” “Kita harus memberontak.” Salah seorang di antara mereka yang berpakaian lebih rapi dari yang lainnya mulai berkata. “Sabar, sabar. Kita tidak perlu mengambil tindakan terburu-buru begini. Kita bisa memperbaiki keadaan ini, namun secara berangsur-angsur.” Bisikan-bisikan kecil kedengaran di antara buruh-buruh yang berkumpul itu. Mereka mencurigai sikap orang yang berpidato tadi. Seorang pekerja tambang yang masih muda lantas menyahut. “Berangsur-angsur? Kita tidak bisa menghilangkan penindasan atas kaum buruh secara berangsur-angsur. Sebaliknya kita harus menghapuskan sama sekali segala bentuk penindasan secara menyeluruh.” Kata-kata beliau disambut dengan tepukan gemuruh. Perkumpulan pun dilanjutkan.

8. Pada sore itu juga, para buruh berarak-arakan menuju kediaman Macprofit. Ketika itu, Macprofit sedang membaca koran yang memberitakan kebangkrutan perusahaan Inggris (karena mendapatkan saingan dari luar negeri) dan pemogokan-pemogokan kaum buruh. Macprofit menerima telepon yang membuatnya semakin panik. “Aku ingin memberitahu kau, bahwa tambang besi milikmu yang besar itu sudah bangkrut. Perusahaan lain sudah membeli semua tambang-tambang tersebut.” “Pranggggg” kaca jendela di belakang Macprofit pecah. Kepanikan Macprofit semakin bertambah begitu melihat ke luar jendela, ribuan buruh yang marah dan menuntut telah memenuhi halaman rumahnya. Telepon yang masih bersuara (memanggil) diabaikannya sama sekali. “Kami sudah cukup menderita!” “Keluarlah kau ke sini agar kami potong leher kau,” teriakan para buruh yang membuat Macprofit menggigil dan menghubungi polisi. Polisi berkuda pun datang dan membubarkan massa buruh dengan kekerasan dan tembakan senjata. Banyak di antara massa yang tertembak dan terluka bahkan ada yang mati. “Kami akan datang lagi. Polisi, kau bisa mengusir buruh, tapi kalian tidak akan mampu menghalangi gerakan kelas buruh seluruhnya,” demikian lah suara-suara buruh yang dialamatkan kepada Mac’profit’, membahana di antara bunyi letusan senjata api yang ditembakkan polisi. Kaum buruh mulai bersatu-padu. Mereka mengaitkan persatuan buruh dengan gerakan sosialis—mereka menginginkan agar semua kekayaan yang dihasilkan di dalam masyarakat menjadi milik bersama; setiap orang saling membantu satu sama lain dalam mewujudkan kehidupan yang lebih sempurna; tapi, sebelum semuanya bisa dicapai, kapitalis harus dihancurkan terlebih dahulu. Kaum buruh kini sudah bersiap-siap untuk berjuang sampai menang. Mereka berusaha seolah-olah saat kehancuran kapitalis sudah di depan mata!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s