Pelajaran IV

Oleh Danial Indrakusuma di Buruh Belajar Ekonomi dan Politik

V. 100 juta orang ditawan

1. Orang-orang Portugis dan Spanyol terus menerus menguasai perdagangan di Lautan Hindia dan menaklukkan tanah-tanah jajahan di seluruh Amerika (Selatan). Di negeri-negeri lain, di Eropa, kaum kapitalis sibuk membicarakan bagaimana cara-cara untuk mengkukuhkan kedudukan mereka.

2. John Hawkins sedang berbincang-bincang dengan seorang sahabatnya. Isi pembicaraan mereka antara lain: bahwa barang-barang dagangan yang memberikan keuntungan besar adalah kopi dan gula; tapi mulai banyak orang menanam kopi Portugis di Amerika (Selatan); sehingga mereka merasa terancam karena, dengan begitu, harga kopi akan turun; Tapi mereka akhirnya sadar bahwa mereka tak bisa menghalangi orang-orang lain untuk menanam kopi, apalagi bagi mereka yang memiliki banyak uang (modal); kemudian, mereka memiliki siasat baru: karena orang-orang sekarang banyak yang menanam kopi, maka mereka, tentu, membutuhkan tenaga kerja, dan mereka akan menyediakan (maksudnya: menjual) tenaga kerja tersebut, yang diambil dari Afrika—karena mereka merasa bahwa orang-orang pribumu Amerika (Selatan) malas-malas.

3. Cerita sebenarnya mengenai John Hawkins. John adalah orang yang garang, kasar, dan tak punya hati. Dia lah yang akan merusak Afrika. Musim Panas, London, 1562, John Hawkins menjelaskan kepada para pedagang, pengusaha (kapitalis): bahwa bila para kapitalis itu mau menyediakan 3 kapal kepadanya, lengkap dengan tentaranya, termasuk juga sedikit barang yang akan dipertukarkan, dia berjanji akan membawa kembali keuntungan berlipat ganda atas modal yang ditanamkan oleh para kapitalis tersebut. Pada 3 Agustus, 3 buah kapal berlayar dari pelabuhan London. Sesampainya di tujuan, mereka menukar 10 bilah pisau dan 6 meter kain dengan seorang hamba abdi (budak) yang kuat. John mendapatkan segala yang dikehendakinya, tapi ia masih merasa tak puas. Kemudian mereka mendatangi kampung lainnya. Kampung-kampung dibakar dan yang menentang dibunuh. Kini kapal telah penuh dengan muatan. Ada 300 budak yang diangkut di dalamnya. Di tengah laut mereka menjual budak-budak tersebut kepada kapal portugis. Dengan uang yang diperoleh, John membeli kulit binatang dan gula. Kapal mereka dipenuhi barang-barang dagangan tersebut. Mereka membeli 2 kapal lagi (sebelum berlayar pulang) untuk memuat barang-barang dagangan tambahan. Di London John menjual semua yang dibawanya. Para kapitalis, yang dahulu memberinya modal, sangat gembira dengan keuntungan besar yang diperoleh John, yang juga akan dipersembahkan kepada mereka. Ratu Elizabeth memberi penghormatan bagi mereka yang memajukan perdagangan budak tersebut.

4. Perdagangan budak dengan cepat meningkat. Kapal-kapal dari Belanda, Inggris, Jerman, Denmark, Portugal dan Spanyol berlayar sepanjang pantai barat Afrika untuk membeli budak. Mereka juga mengupah orang kulit hitam untuk mencari budak (sebangsanya), bahkan dengan bayaran senjata. Penduduk semakin takut—mereka ditangkapi untuk dijual. 6 meter kain dan 10 pucuk senapan merupakan bayarannya. Budak diburu hingga kerajaan Kongo. Raja mengadukan perkara tersebut kepada raja mereka, yang bernama Affonso.

5. Sultan mengirim utusan ke semua ketua adat dan pedagang-pedagangnya yang tinggal di pantai. Sultan melarang mereka menjual budak kepada kapal-kapal Eropa. Mereka malah mengatakan: “Oh! Tuanku sudah tua, tak bisa mengerti perkara ini.”; “Inilah cara yang paling mudah untuk menjadi kaya.”; “Lihat betapa indahnya barang-barang ini, sutera, emas dan perak.”; “Dan senjata dari Eropa lebih kuat.”

6. Perhatikan! Ada perbedaan keuntungan yang diperoleh dari penjualan budak di Eropa dan Afrika. Pedagang di Afrika, hanya memperoleh barang-barang yang bermutu; tapi di Eropa, pedagang-pedagang menanamkan modalnya di pabrik-pabrik atau perkebunan-perkebunan, dan modal mereka semakin bertambah besar dari masa ke masa.

7. Raja Alfonso mengirim utusan demi utusan kepada sahabatnya, Raja Portugis. Inilah isi suratnya: “Emanuel yang saya hormati, sungguh, aku telah melarang penggunaan senjata yang dibawa oleh pedagang-pedagang tuan ke dalam kawasan pemerintahan kami. kebanyakan pembesar kami tidak lagi patuh kepada pemerintah kami karena tuan memiliki lebih banyak harta ketimbang yang kami miliki. Pedagang-pedagang tuan mengambil anak-anak kami, lelaki dan perempuan, setiap hari. Kegairahan pedagang-pedagang tuan tersebut akan melenyapkan pendudukku. Saudaraku yang terhormat, kami memerlukan bantuan tuan dalam perkara ini. Harap tuan bisa melarang pedagang-pedagang tuan menjual senjata api. Adalah harapan kami agar perjualan budak tidak berlaku di negeri ini. Affonso.”

8. Inilah jawaban bagi surat Affonso: “Affonso yang dimuliakan, harapa tuan tidak berkecil hati. Kita haruslah senantiasa tidak ketinggalan zaman. Pembelian dan penjualan budak sudah menjadi perdagangan penting di Eropa. Tidak ada satu kuasa pun di dunia ini yang dapat menghentikannya. Tambahan pula, aku tak memiliki kuasa apapun dalam perdagangan tersebut. Aku sendiri sudah banyak berhutang kepada pedagang-pedagang tersebut. Salam, Emanuel.” Kini, kain dan gading tidak bisa dipertukarkan dengan senapan, karena senapan hanya akan dipertukarkan dengan budak. Kini Raja dan penduduk memerlukan senapan untuk melindungi diri dari pemburu budak. Tapi untuk mendapatkan senapan, mereka harus menjual budak. Sekarang penduduk memiliki prinsip baru: siapa yang tak menjual budak, akan dijual sebagai budak.

9. Pusat-pusat perdagangan budak tumbuh bagai jamur, bagai cendawan di sepanjang pantai barat Afrika. Pedagang budak yang tinggal di sana bagai lintah yang sedang menghisap darah Afrika. Pedagang-pedagang dari Inggris, Jerman, Spanyol, Protugis, Belanda, dan Denmark memerlukan lebih banyak budak. 100 juta manusia ditawan. Keganasan tersebut menyebar ke seluruh Afrika. Ada orang-orang kampung yang satu menawan budak dari kampung-kampung tetangganya. Rakyat menjadi tidak saling percaya dan saling curiga sesama mereka. Tak ada satu pun yang berani mengerjakan tanah lebih luas dari keperluan mereka sendiri. Pada saat-saat tertentu, ladang ditinggalkan dan penduduk lari bersembunyi. Kain tak perlu ditenun lagi karena kain dari Eropa lebih murah harganya. Dalam keadaan seperti itu, kekejaman pun merajalela. Perdagangan yang menguntungkan tersebut telah memberikan keuntungan, laba, kepada perusahaan di Eropa, sementara Afrika dilanda penyakit kelamin, arak, dan senapan.

10. Tahun 1750. Seorang hamba yang berhasil membebaskan diri, kemudian melarikan diri, dan kembali ke kampung halamannya—yang hanya berpenduduk orang-orang tua dan yang lemah, yang ditinggalkan oleh atau tak berguna bagi pemburu budak—bercerita bahwa: mereka dibawa selama 4 bulan. Di kapal, agar menghemat tempat, kami dirapat-rapatkan. Kaki dan tangan kami dirantai. Kami semua ada 140 orang budak, tapi kami tinggal 50 orang, karena yang lainnya mati akibat kondisi yang jelek itu. Kami ada di kapal Belanda. Setelah 6 minggu berlayar, kapal Inggris mencoba menawan kami. Kami mendarat di sebuah pulau yang bernama Jamaica, dan kami dijual di pasar dekat pelabuhan. Kami diperkerjakan di ladang tebu dari jam 5 pagi hingga jam 7 malam. Mandor, penyelia atau pengawasnya, adalah orang kulit putih yang menunggang kuda, membawa rotan pemukul, mengawasi kami. Di ladang Portugis yang di Brazil, tebu ditanam. Di kepulauan Karibia, dan di ladang Prancis serta Inggris di Amerika Utara, tembakau, tebu dan kapas ditanam. Budak yang mencuri, walau sedikit, dihukum mati. Budak yang tak menuruti perintah dibakar kakinya. Mereka yang mencoba melarikan diri, dicari mati-matian. Kami sering memprotes keadaan tersebut. Tapi bahkan padri mendakwa mereka akan masuk neraka bila menentang keadaan tersebut. (Padahal neraka yang mereka alami lebih buruk keadaannya) Mereka mulai berangan-angan memberontak. Sebenarnya orang-orang kulit putih takut kepada mereka, tidur pun mereka membawa senjata. Pakaian yang ditenun, dan benang yang dipintal di Inggris mendapatkan bahan mentah kapasnya dari Amerika Utara, yang diproduksi oleh budak-budak.

11. Perdagangan segi tiga. Kapal-kapal merantau ke seluruh dunia dan terus menerus mendatangkan kekayaan bagi Eropa. Inilah ceritanya: Di Eropa, keuntungan dari perdagangan dan pemerasan ditanamkan dalam perusahaan pemintal, tenun dan pembuatan senjata api. Kain dan senjata api merupakan barang dagangan utama yang dikirim ke Afrika. Di Afrika Barat, senjata api dan kain ditukarkan dengan budak. Kapal kemudian berlayar ke Amerika Utara dimuati (penuh) dengan para budak. Di Amerika Utara, budak dijual kepada tuan-tuan yang punya ladang. Budak digunakan sebagai pekeja tanpa bayaran untuk menanam kapas, gula dan tembakau Para pedagang menggunakan uang yang mereka peroleh dari hasil menjual budak tadi untuk mengisi kapalnya dengan kapas, gula dan tembakau. Itulah mengapa kapas, gula, dan tembakau yang diangkut dengan kapal dari ladang-ladang Amerika Utara, dan dijual di Eropa, dapat memberikan keuntungan yang besar kepada para pedagang.

12. Para pedagang (kapitalis) Inggris mendapatkan bantuan dari pemerintahnya. Angkatan laut dan angkatan darat Inggris dikirim ke Amerika, Eropa, dan Asia untuk menghancurkan para pedagang (kapitalis) Spanyol, Prancis, Belanda dan Denmark. Pada pertengahan abad ke 18, mereka menguasai semua perdagangan antara Eropa dan benua lain. Kesan kejadian tersebut bagi kapitalis sangatlah penting:

13. Lanchashire, Inggris, 1766. Mesin pemintal dan penenun yang ada pada waktu itu terlalu lambat, padahal permintaan akan benang dan kain sedang meningkat. Kemudian kapitalis membayar akhli mesin untuk menciptakan mesin yang baru yang lebih cepat. Mesin “Spinning Jenny” selesai diciptakan tahun 1767. Tapi itu pun tak sanggup memenuhi permintaan akan benang dan kain yang terus meningkat. Mesin tenun bari diciptakan tahun 1785. Tetapi untuk membuat mesin, diperlukan besi dan batu bara (sebagai bahan bakarnya). Maka diciptakanlah bahan bakar yang lebih baik: Uap. Air ditampung di pam, kemudian airnya diuapkan sehingga bisa digunakan sebagai tenaga uap untuk menempa besi. Tenaga uap juga dapat menjalankan mesin tenun dan mesin anyam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s