Pelajaran III

Oleh : Bung Daniel Indrakusumah

IV. Penyatuan Negeri-negeri Kecil

1. Kekayaan mengalir ke Eropa. Orang dari negeri-negeri yang ditaklukkan Portugis dan Spanyol tak leluasa untuk berdagang—mereka ditarik cukai atau pajak bila berniaga karena tanah mereka sudah diakui sebagai tanah orang-orang Portugis dan Spanyol. Apapun yang berharga dirampas sebagai cukai atau pajak. Saat berdagang di pelabuhan, mereka ditarik cukai atau pajak karena, katanya, tanah mereka sudah bukan tanah mereka lagi tapi tanah orang-orang Portugis atau Spanyol. Mata uang yang diakui pun hanya mata uang Portugis dan Spanyol, kecuali uang emas—yang (sengaja) dinilai rendah sekali oleh Portugis dan Spanyol. Bila penduduk setempat tak mau menerima nilai yang ditetapkan, maka mereka diancam akan dibunuh. Perniagaan menjadi sulit karena cukai, pajak atau upeti yang tinggi, dan kerajaan akan menggunakan kekerasan (tentaranya) bila pedagang atu masyarakat tak mau membayar sesuai dengan jumlah yang ditetapkan kerajaan. Para pedagang dan rakyat banyak yang merasa sia-sia berusaha karena keuntungannya lebih banyak atau sebagian besar diambil kerajan. Bahkan untuk melewati jembatan saja harus kena pajak.

2. Para pedagang mulai tidak puas dan membicarakan persoalannya. Mereka menganggap bahwa kapitalis tak akan berhasil bila ditekan, diganggu dan dihambat oleh kerajaan. Mereka mulai merencanakan perlawanan. Mereka sepakat bahwa tuan-tuan tanah harus dihapuskan. Akhirnya mereka meminta pertolongan tuan tanah yang paling berkuasa: RAJA. Bila hak-hak tuan-tuan tanah dikurangi atau dihapuskan, maka raja akan menjadi lebih kaya raya. Di atas pertimbangan itulah maka raja setuju untuk membantu para pedagang. Para penasihat raja pun setuju dengan pendapat seperti itu. Namun, raja khawatir kekurangan dana dan persenjataan saat raja harus memerangi para tuan tanah yang memberontak pada aturan baru raja. Para pedagang lah yang membantu menyediakan dana tersebut.

3. Berita mengenai kesepakatan antara raja dan para pedagang tersebut menimbulkan kemarahan para tuan tanah. Para tuan tanah tidak rela hak-haknya (terutama atas tanah) dihapuskan oleh raja. Akibatnya: terjadilah PERTENTANGAN KELAS dalam wujud peperangan antara para pedagang (yang dibantu raja) dengan para tuan tanah. Para pedagang lebih pandai, mereka tidak pergi berperang (seperti para tuan tanah), tapi mereka menyewa tentara bayaran. Perang antara tuan tanah dengan pedagang memiliki persamaan atau hampir terjadi di seluruh Eropa dalam tahun 1500-an dan 1600-an Masehi.

4. Para pedagang tak memiliki waktu untuk bertempur di medan juang, mereka memiliki perkerjaan yang lebih penting: berdagang. Mereka membayar tentara bayaran dan akhli-akhli ilmu pengetahuan—terutama akhli-akhli senjata api dan meriam—untuk bekerja bagi para pedagang. Dalam perang antara raja—yang sedang membela pedagang—dengan tuan-tanah, senjata-senjata raja juga dibeli dari pedagang. Bahkan para pedagang membeli bengkel-bengkel kecil pembuat senjata dan menggabungkannya menjadi pabrik sejata besar—mereka mengupah tukang-tukang (yang tadinya pemilik bengkel-bengkel kecil) dan petani (yang tak bertanah) untuk bekerja di pabrik senjata besar itu.

5. Di pabrik besar tersebut, pekerjaan dipercepat dengan membagi-bagi kerja (atau spesialisasi) sesuai dengan keakhliannya. Para pedagang (kapitalis) banyak mendapat keuntungan dari penjualan senjata. Tentu saja, dengan begitu, modalnya menjadi bertambah. Dan kini, para pedagang (kapitalis) mendapat perlindungan dari raja, menjadi teman baik raja. Sangat menyakitkan: para tuan tanah terpaksa membeli persenjataan kepada para pedagang dan kapitalis pabrik senjata, sedangkan keuntungannya sebagian diberikan pada raja untuk membiayai perang melawan tuan tanah. Jadi, uang yang diberikan tuan tanah (untuk membeli senjata) digunakan oleh raja untuk memerangi tuan tanah; para tuan tanah menggali liang kuburnya sendiri.

6. Perang, perdagangan, bengkel-bengkel, dan pabrik-pabrik (senjata) telah menambah kekuatan pedagang (kapitalis). Dalam ronde pertama, para pedagang (kapitalis) telah memenangkan pertentangan kelas tersebut. Setelah itu, oleh raja dibuatlah undang-undang yang menguntungkan para pedagang (kapitalis). Raja membayar upah hakim dan akhli hukum untuk membuat undang-undang baru yang akan diberlakukan di seluruh negeri. Undang-undang tersebut, antara lain: semua negeri-negeri kecil diwajibkan membentuk persekutuan di bawah pemerintahan seorang raja; dan pemberlakuan perdagangan bebas. Tuan-tuan tanah tak boleh memiliki tentaranya sendiri, dan mereka tak boleh memberlakukan sembarang cukai atau pajak kepada para pedagang. (Tapi para petani masih harus membayar sewa atau mempersembahkan upeti kepada tuan tanah.); dan siapa yang melanggar undang-undang tersebut, akan menerima hukuman dari tentara dan polisi kerajaan. Banyak negeri-negeri baru bermunculan di Eropa pada permulaan tahun 1600—Denmark; Swedia; Inggris; Polandia; Prancis; Portugal; Spanyol. Sebelum itu, Eropa hanya terdiri dari negeri-negeri kecil. Kemudian negeri-negeri kecil ini disatukan dan membentuk negeri yang besar (tetapi Jerman dan Italia belum lah terbentuk). Para pedagang dapat melakukan perdagangannya dengan bebas dalam tiap-tiap negeri. Dan para pedagang diperbolehkan menggunakan tentara kerajaan untuk membantu menjalankan perdagangannya di Asia dan Amerika (Selatan).

7. Menurut petani: “Pada awalnya, hanya tuan tanah yang memiliki kekuasaan. Sekarang, para pedagang itu juga telah berkuasa. Walaupun kebanyakan dari mereka tak memiliki tanah, golongan kita lah, kaum tani, yang sebenar-benarnya membiayai mereka.”

8. Pencuri dan Penjarah. Tuan hakim tinggal di kota pelabuhan yang besar. Beliau menjadi kaya raya dan memiliki banyak saham dalam berbagai serikat dagang yang merampas, memburu, merampok dan menjarah di seluruh pelosok dunia. Tiap-tiap kali pulang ke tanah airnya, serikat-serikat dagang tersebut akan banyak membawa keuntungan. Tuan hakim yang kaya raya ini terus hidup dalam kemewahan, kekayaannya ditumpuk di atas tumapahan darah beribu-ribu orang yang tak berdosa di Afrika, Asia dan Amerika (Selatan). Bagaimana pun, hakim laknat tersebut masih juga bernasib baik karena, walaupun kemewahan hidupnya diperoleh dari kegiatan orang lain—yang merampok, menyamun, dan mencuri untuknya—namun, mereka tergolong ke dalam kelas atau golongan yang berkuasa. Golongan ini mempunyai kekuasaan untuk menentukan yang benar dan yang salah. Sebagai contoh:

Hakim yang kaya ini ditugaskan menyiasati undang-undang dan menentukan hukuman berat yang dijatuhkan terhadap orang yang salah. Suatu hari, seorang anak muda yang gagah dan berhati mulia telah kedapatan melakukan kesalahan. Ibu dan bapak John telah lama bekerja kepada tuan tanah, dan tuan tanahnya, dari waktu ke waktu, telah menaikkan sewa tanahnya. Satu ketika, ibu dan bapak John tak sanggup lagi membayar sewa tanah yang terlalu mahal. Lantas mereka dihalau ke luar dari rumah dan tanahnya, serta terpaksa mengemis untuk menghidupi John yang, pada saat itu, baru berumur satu tahun.

Bapak john jatuh sakit, lalu menemui ajalnya setelah menderita wabah demam panas yang menyerang para pengemis. Setelah kematian bapaknya, ibu John pindah ke kota pelabuhan, tempat tuan hakim tersebut tinggal. Ibu John tinggal di kawasan terlarang bersama-sama pengemis-pengemis lainnya. Desakan hidup memaksa beliau menjual John kepada seorang pedagang kaya yang hendak mempekerjakan John sebagai pesuruhnya. Ketika itu, umur John 11 tahun. Tidak ada rasa belas kasihan di hati pedagang itu. Apa yang diperoleh John sebagai upah hanyalah semangkuk sop dan setampuk roti sehari. John tak berani mempersoalkan perkara tersbut kepada tuannya.

Suatu hari, ketika John telah telah dewasa, ia bertemu kembali dengan ibunya yang sudah tua. Ibunya datang dengan harapan dapat bertemu John di gudang tempat john bekerja. Dia menyesal sepanjang hidupnya karena telah menjual anaknya semata-mata karena uang. Sekarang pengemis ini datang untuk menemui anaknya, mungkin untuk terakhir kalinya sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. John dapat merasakan penderitaan ibunya yang sangat miskin ini dan, serentak, saat itu juga, ia teringat kemewahan hidup pedagang itu, tuannya. Perasaan benci memenuhi jiwanya. Malam itu, dia masuk ke rumah pedagang itu, lalu mencuri sebuh mangkuk perak. Esoknya dia menjualnya guna mendapat sedikit uang untuk membeli obat bagi ibunya.

Nasibnya kurang baik, pencurian tersebut akhirnya diketahui juga. John ditangkap dan ditempatkan di sel tahanan polisi yang gelap dan berbau busuk. Dia tak bisa bertemu ibunya lagi. Mungkin ibunya telah meninggal pada malam yang sama saat dia ditahan. John dihadapkan ke muka pengadilan. Dia terpaksa mendengarkan tuduhan yang panjang lebar, yang dia sendiri kurang paham. Kemudian tuan hakim memberikan keputusan untuk menjatuhkan hukuman. “Anak muda ini adalah ‘seorang penjarah, pencuri yang paling berbahaya, dan melakukan penghinaan kepada masyarakat’. Dia tidak menghormati hak milik perseorangan.” Dia dihukum penjara seumur hidup. Syukur, dia tidak dihukum gantung.

Begitu keadaan di zaman itu, dan begitu juga lah keadaannya pada hari ini. Perampok-perampok besar yang berhasil menjadi kaya raya dari hasil rampasan dan pembunuhan dilepaskan tanpa menerima hukuman apapun. Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang bijaksana dan layak menerima penghormatan dari masyarakat. Akan tetapi, pencurian-pencurian kecil, yang sekadar bertujuan menyambung nafas setelah tanah dan rumahnya dirampas, dianggap sebagai perampas berat, dan dimasukkan ke dalam penjara. Pencuri-pencuri kecil menerima hukuman penjara, sedangkan perampok dan pembunuh terbesar memerintah negara.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s