#1 Zadul Ma’ad Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Masa Diwajibkannya Puasa .

Fardhu Puasa (Ramadhan) , turun pada tahun kedua hijriyah . Sehingga , pada waktu Rasulullah SAW wafat, beliau telah menjalankannya puasa sebanyak sembilan kali Ramadhan .

Pertama kali, puasa difardhukan dengan menawarkan pilihan ; antara berpuasa dan memberi makan orang miskin setiap hari. Kemudian setelah itu , dialihkan kepada kepastian wajibnya berpuasa . Dan keharusan memberikan makan ditetapkan untuk orang yang berusia lanjut dan kepada perempuan apabila keduanya tidak sanggup berpuasa . Mereka boleh berbuka dibulan puasa . dan sebagai gantinya mereka harus memberi makan orang miskin setiap hari selama waktu tidak berpuasa. Bagi orang sakit dan orang yang sedang berpergian , mereka diberi keringanan untuk berbuka dan harus meng qadha’nya dihari yang lain .

Begitu pula dengan wanita hamil yang sedang menyusui (Diriwayatkan oleh Ahmad , Abu Dawud , At-Tirmidzi dan Ibnu Majah ) apabila mereka khawatir terhadap diri mereka . Tetapi jika mereka berdua khawatir terhadap perkembangan anak mereka , maka disamping keharusan untuk mengQadha’ , diwajibkan pula memberi makan kepada orang miskin setiap hari .
Sebab ,berbukanya mereka bukan karena takut terhadap suatu penyakit , tetapi hal itu dilakukan bersamaan dengan kondisi mereka yang sehat . Maka penggantian dengan berbukanya orang yang sehat diawal-awal Islam .

(HR.Al-Bukhari,8/35,dari Ibnu Abbas tentang Firman Allah Ta’ala , “Dan bagi orang-orang yang susah payah berpuasa maka hendaklah membayar fidyah dengan member makan seorang miskin .” Bahwa ayat ini tidak mansukh (dihapus),bahkan ia berlaku untuk orang tua; laki-laki dan perempuan , yang tidak mampu berpuasa . Maka mereka member makan untuk setiap hari puasa satu orang miskin . Bacaan dengan lafadz ‘yuthawwaqunahu’ bersusah payah adalah qira’ah Ibnu Mas’ud . Adapun mayoritas membaca dengan lafazh, ‘yuthiiqunahu’ (mereka mampu) , Dalam Riwayat An-Nasa’I disebutkan . makna , ‘yuthawwaqunahu’ yakni memikul bebannya , “Al-Hafizh berkata , “Itu adalah tafsiran yang baik , yakni mereka melakukannya namun dengan susah payah . “Abu Dawud , No.2318 dan Ath-Thabarani, 3/427 meriwayatkan dari Ibnu Abbas , ‘Bagi mereka yang mampu ( namun tidak berpuasa) maka hendaklah membayar fidyah member makan seorang miskin. “Beliau berkata, “Keringanan ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan (namun dengan susah payah) , dibolehkan bagi mereka tidak berpuasa dan member makan seorang miskin untuk setiap hari puasa .Demikian juga Wanita Hamil dan Menyusui jika keduanya Khawatir , “Abu Dawud berkata , ‘Maksudnya mengkhawatirkan anak , maka mereka tidak berpuasa dan member makan .’)

Fase perinyah puasa ada tiga tingkatan :

Pertama ; Diwajibkan dengan kemudahan boleh memilih .
Kedua ; Kepastian Wajib , Hanya saja dulu orang yang berpuasa apabila tertidur sebelum makan (sahur) , maka haram baginya makanan dan minimun sampai tiba malam berikutnya . (HR.Ahmad, Ad-Darami, Al-Bukhari dan Abu Dawud) lalu keharusan ini dihapuskan oleh tingkatan fase ketiga yaitu sebagaimana yang diakui dan ditetapkan oleh syariat sekarang ini sampai hari kiamat .

Nabi SAW bersabda : “Puasa itu Benteng (Perisai).” (HR.Ahmad)

(HR.Bukhari , Kitab Ash-Shaum , Bab Fadhl Ash Shaum , 4/87 dan 94, Muslim , no.1151(163) , dari hadits Abu Hurairah Ra. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “Allah berfirman , ‘semua amal anak keturunan Adam untuknya kecuali Puasa, Sesungguhnya ia untuk-KU , dan aku yang akan membalasnya , ‘puasa perisai. Apabila hari dimana salah seorang kamu berpuasa , maka janganlah ia berkata keji hari itu, dan jangan bertindak sia-sia . Jika seorang mencacinya dan memeranginya , maka hendaklah ia memgatakan , ‘Sesungguhnya aku sedang puasa’ , Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-NYA,bau mulut orang berpuasa lebih harum disisi Allah pada hari Kiamat darpada aroma kesturi bagi orang berpuasa ,dua kegembiraan apabila berbuka , kegembiraan saat ia berbuka dan apabila bertemu Rabbnya ia bergembira karena puasanya ,”Diriwayatkan juga Imam Malik , Al-Muwattha’, 1/310, Abu Dawud, no.2363, dan An-Nasa’I, 4/163.

Menu Rasulullah SAW Saat berbuka

Tradisi Rasulullah SAW adalah berbuka sebelum mengerjakan Sholat Maghrib . Menu buka beliau adalah dengan memakan buah korma basah kalau ada , dan kalau tidak maka dengan korma kering . Dan jika itupun tidak ada, maka dengan beberapa teguk air . (HR.Ahmad, Abu Dawud , dan At- Tirmidzi)

Bacaan Beliau ketika berbuka

Diriwayatkan dari Rasulullah , bahwa Beliau mengucapkan dikala berbukanya ,
“Allohumma laka sumtu wa’ala rizqiqa’ aftartu’ fatakabbal’minna’ , innaka’anta’sammiul’alim”
(“Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa , dengan Rezeki-Mu aku berbuka , maka terimalah dari kami , sesungguhnya engkau maha pendengar lagi maha mengetahui.)” Hanya saja Riwayat ini tidak akurat keshahihannya.) (HR.Ibnu As-Sini).
Diriwayatkan pula bahwa beliau mengucapkan saat berbuka

“Allohumma laka sumtu wa’ala rizqiqa’ aftartu’” .
(“Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa Dan dengan Rezeki-Mu aku berbuka.”)
Diterima oleh Abu Dawud dan Muadz bin Zahrah yang menyebutkan , bahwa telah sampai kabar kepadanya Nabi SAW mengucapkan itu .

Kutipan dari Buku Ibnu Qayyim Al – Jauziyah “Zadul Maad” (Panduan lengkap Meraih kebahagian Dunia Akhirat) Jilid Satu, isi Halaman : 560 .

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s