Pengusaha Minta Insentif Tidak dalam Bentuk Fiskal

Anton Supit--MI/Susanto/cs

Jakarta: Pengusaha mengusulkan pemerintah membuat insentif tidak melulu dalam bentuk fiskal, tapi dalam bentuk perubahan sistem. Perubahan-perubahan itu dirasa lebih penting untuk mendorong bergeraknya ekonomi, memastikan pertumbuhan ekonomi tetap pesat, tidak ada pemutusan hubungan kerja, dan dapat mendorong kinerja ekspor. Dalam jangka panjang, perubahan ini akan mampu memperbaiki kinerja transaksi berjalan bagian dari neraca pembayaran Indonesia (NPI).

Salah satu ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anton Supit menyampaikan, sistem pengupahan yang baik lebih penting daripada dalam bentuk fiskal. Ia memastikan, pengusaha lebih ingin perubahan-perubahan non fiskal. “Jangan terjebak seolah-olah insentif itu harus bentuk fiskal. Bahwa percepatan di pelabuhan, percepatan administrasi, kita boleh lihat pengertian luasnya seperti itu juga. Itu juga insentif,” katanya pada wartawan.
Anton menyampaikan, aturan yang bisa diubah misalnya mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang direstitusi jika ekspor. Kalau perusahaan sudah 100% ekspor, kata Anton, akan lebih mudah jika sejak awal tidak dikenakan PPN.

Adapun perubahan untuk industri padat karya, kata Anton, akan lebih terasa jika sistem pengupahan yang diubah. Sistem pengupahan harus dibuat lebih pasti berdasarkan mekanisme bipartit atau tripartit.

“Menurut kita, terutama padat karya, yang bisa selamatkan itu adalah pertama itu pengupahan dan ketenagakerjaan. Law enforcement juga harus jalan,” ujar Anton.

Insentif fiskal berbentuk pengurangan atau penangguhan pajak penghasilan (PPh) bagi industri padat karya adalah salah satu bagian dari paket kebijakan yang dijanjikan akan keluar untuk mengatasi gejolak perekonomian yang terjadi.

Insentif ini dibuat terutama untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) perusahaan yang bisa berakibat berkurangnya daya beli masyarakat. Pada gilirannya, ini akan mengurangi konsumsi masyarakat.

Setali tiga uang, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Sutrisno juga meminta insentif dalam bentuk kemudahan administrasi. Benny mempermasalahkan administrasi impor yang jauh lebih sedikit daripada administrasi ekspor.

“Kalau kita ekspor, kita kan dibebankan banyak, termasuk Bank Indonesia membebankan kita hasil devisa ekspor. Kalau kita impor, kita nggak dibebankan apa-apa,” kata Benny.

Perbaikan-perbaikan semacam itu, lanjut Benny, bisa membantu kinerja ekspor. Meski demikian, pelemahan rupiah yang saat ini terjadi sudah turut membantu kinerja ekspor.

Benny menuturkan, pelemahan telah membantu kinerja ekspor sebesar nominal pelemahan tersebut terhadap dolar AS. Namun, karena sebagian bahan baku berasal dari impor, maka penambahan daya saing tersebut hanya sebagian dari pelemahan rupiah yang terjadi. (Gayatri)

Editor: Afwan Albasit

Sumber : MetroTvNews

Terkait Penguatan Perekonomian, SBY Diharap Terima Masukan Apindo

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengaku siap membantu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menangani pelemahan ekonomi yang menyerang Indonesia beberapa waktu terakhir.
Apindo juga telah memberikan masukan yang bersifat jangka pendek, menengah dan panjang.
Demikian hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi kepada Metrotvnews.com di Jakarta, Jumat (23/8). Namun, Sofjan enggan membeberkan masukan-masukan apa saja yang telah disampaikan kepada Presiden SBY untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia.
“Kita (pengusaha) sudah sampaikan usulan dan masukan kepada Bapak Presiden. Baik itu usulan jangka panjang, menengah dan pendek. Namun saya tidak bisa menyampaikan itu dulu, karena nanti Pak SBY yang akan sampaikan,” jelas Sofjan ketika dimintai konfirmasi.
Sofjan juga berharap nantinya segala masukan dari pengusaha dapat diterima dan dijalankan pemerintah. Hal tersebut dimaksudkan agar roda perekonomian dapat kembali berjalan dengan normal.
“Semoga kami para pengusaha ini tidak turut terlibat dalam hal-hal spekulasi. Itu semua kami serahkan ke pemerintah agar kami dapat bekerja normal lagi,” sambungnya.
Seperti yang diketahui, rencananya Presiden SBY sore ini akan menggelar konfrensi pers untuk menyampaikan poin-poin kebijakan terkait penyelamatan stabilitas ekonomi Indonesia. Hal tersebut merujuk pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) yang telah menembus Rp11.000/USD dan rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Editor: Edwin Tirani

Sumber :

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s